. Rohis SMK Arjuna Depok [ رحس أرجون ]: Februari 2013
Have an account?

Assalamu'alaikum ikhwah fillah

Rohani Islam merupakan wadah bagi siswa-siswi muslim di SMK Arjuna Depok. Alhamdulillah kami telah menyediakan layanan lewat dunia maya yakni lewat blog. Semoga apa yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi kalian semia. Mohon maaf bila terdapat kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam isi blog. Kami mohon untuk memberikan komentarnya ke postingan blog.

Akhirnya, Kami selaku Departemen Media Publikasi mengucapkan

Jazzakumullah khoiron katsiron!

Departemen Publikasi

Kamis, 28 Februari 2013

Jadilah Seperti Air

ROJUNA :

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa, Maha pengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu cacat?”(QS. Al Mulk: 1-3)
Allah menciptakan apa-apa yang ada di langit dan di bumi, agar kita mampu berfikir dan menelaah. Saat kita duduk di tepi sungai, akan kita rasakan serasinya ciptaan Allah. Batu yang sangat keras dan kokohnya, air yang mengalir sangat lembut. Tidakkah kita mampu menerapkannya dalam kehidupan yang sebenarnya.
Kita ambil ‘ibrah dari air dan batu yang dapat bekerja sama dengan satu harmoni yang sangat indah sesuai kehendak-Nya. Begitulah seharusnya kita bersikap dan bertindak dalam dakwah ini. Dakwah ini tidak akan berjalan dengan segelintir orang saja, tetapi atas banyak unsur yang berjalan dengan serasi. Begitu indah pelajaran yang bisa kita tarik dalam setiap ciptaan-Nya.
Dakwah ini tidak akan berjalan dengan selalu memperselisihkan tugas,
“Ini hak Antum, ini hak Ane. Ini kewajiban Antum, dan ini kewajiban Ane,”
Malulah kita dengan apa yang terjadi dengan air dan batu. Tidak ada pertikaian di antara mereka. Kita sama-sama muslim dan kita adalah saudara.
Memahami keadaan itu, kita akan menemukan sebuah pelajaran penting dalam ukhuwah. Hati kita harus selalu dijaga kelembutannya, agar ruh-ruh kita tetap bercahaya. Kita dalam dakwah ini bukan saling terikat membebani, melainkan untuk saling tersenyum memahami dan saling mengerti dengan kelembutan nurani.
Tertatih kita menjalani kehidupan dalam dakwah ini, menyambung silaturahim yang terasa kering, dan hubungan yang terasa sangat pahit. Saat kita memaknai dan menamakan hubungan ini karena Allah maka semuanya akan terasa indah dan sejuk dalam sanubari.
Dakwah ini meniti jalan yang sangat terjal dan berliku, penuh dengan onak dan duri. Kembali kita meluruskan niat, mengokohkan tekad, menguatkan simpul komitmen kita dalam dakwah dan menunaikan setiap tanggungan amal-amal yang harus di tunaikan. Tanpa harus memikulkan tanggungan kita kepada yang lain, atau membebankan tugas yang seharusnya dipikul bersama kepada sebagian dan bahkan seorang saja.
Berusaha mengukur sendiri kemampuan diri untuk mampu mengukur kemampuan orang lain. Saat kita merasa itu berat bagi kita jangan lantas di alihkan ke salah seorang ikhwah kita.
Jangan tanyakan lagi tentang keikhlasan kepada mereka, karena mereka akan dengan rela dibebani banyak tugas meski yang lain dalam keadaan tenang karena bebas tugas. Yang mereka pikirkan adalah pahala dan cinta dari Tuhannya.
Tapi apakah kita tega dan bersenang hati melihat saudara kita terbebani? Dia tertatih dengan tugasnya sementara kita menyibukkan diri dengan kehidupan pribadi?
“Cintailah orang lain sebagaimana kau ingin dicintai. Perlakukanlah orang lain, sebagaimana kau ingin di cintai.”
Maka orang lain akan banyak yang salah paham. Ada yang merasa tersakiti dan terluka dari cara kita menyayanginya. Dan orang akan merasa kita tidak mencintainya padahal itu wujud cinta kita padanya.
Maka gantilah bunyinya, “Cintailah orang lain sebagaimana mereka ingin di cintai. Perlakukan orang lain dengan cara sebagaimana mereka ingin diperlakukan.”
Dengan begitu maka dakwah dan ukhuwah ini akan terasa indah. Tidak ada yang merasa hanya sebagian yang terbebani dan sebagian bebas dari tugas.
Maka mencobalah untuk menanyakan kepada saudara kita. Dan pahami setiap kemampuan diri kita adalah berbeda. Dengan meminta masukan pendapat itu maka akan semakin menguatkan persaudaraan dan melimpahkan ketulusan.

Selasa, 12 Februari 2013

My Mother My Hero

Oleh : riosyams.blogspot.com
 
Ibuku kecil bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga kaya dan berdarah biru, ibuku hanyalah seorang manusia biasa yang berdarah minang dan terlahir dari keluarga petani dari dusun negeri tertinggal.

Ibuku kecil bukanlah seorang yang memiliki nama tambahan di belakang namanya, ibuku tidak memiliki Amd, ST, Msc, apalagi DR didepan namanya, bahkan ibuku hanya bergelar seorang anak yang hanya mencicipi manisnya bangku sekolah rakyat nan merakyat.

Ibuku kecil bukanlah seorang wanita bernama indah bak indahnya warna pelangi, ibuku tak pernah marah kepada matahari yang membakar kulitnya, ibuku tak pernah kasar kepada sawah yang menarik nya untuk berlari.....

Ibuku kecil bukanlah seorang anak yang mengenal manja, seorang anak yang merengek minta dibelikan boneka,bahkan sepasang sepatu pun tak pernah terbelikan, bagai mimpi panjang yang tak pernah berujung,

Ibuku remaja tak dilindungi oleh rumah nan megah, ia hanya ditutupi oleh gubug-gubug nan reot, seolah tanah pun enggan menopangnya.

Ibuku remaja bukanlah seorang pemudi berseri-seri, menari-nari diatas kesenangan indahnya masa remaja, ibuku adalah seorang pemudi berhenti berdiri, kembali berlari mengantarkan serantang nasi ke sawah, dan membawa pulang segantang beras sebagai upah.

Ibuku remaja bukanlah pemudi yang ditemani dengan rias-rias wajah nan elok, kulitnya hanya teroleskan keringat, bedak wajah adalah kilauan sengatan matahari menantang, tubuhnya kurus menjulang, garis wajahnya nan jelas bak mendulang.

Ibu menangislah hatiku, jantungku terhujam, ketika kau menangis menggambarkan rinci kehidupan kecil mu nan pilu. Ibu aku bangga denganmu. Biarpun orang menertawakan mu dulu, biarpun orang mengucilkan mu dulu, kini aku memuji mu ibu, aku menyanjung mu ibu, aku dan putra-putri mu yang lain adalah bukti perjuangan mu, bukti kegigihan mu.

Keringatmu adalah dzikirmu.
Tintamu bukanlah emas ataupun perak.
Ilmu adalah tanganmu, kakimu, dan ketegaranmu.
Kaulah bidadari sesungguhnya wahai ibu.
Darah mu adalah darah mulia bagiku.
Gelar mu adalah gelar dimata di Tuhan sebagai manusia yang tegar.
Kecantikanmu adalah ketegaran dan perjuanganmu.

Ibu, Sekarang tataplah dinding-dinding rumah kita, Rumah kita tidaklah megah, tapi kini gubug-gubug itu telah pergi, tanahpun dengan senang menopang rumah kita, sekalipun kini rantau menahan kita, tataplah jajaran foto-foto dirimu dan anak-anakmu, terpampang dengan senyum bangga putera-puteri mu dengan sebuah Toga dan tangan melilit sebuah bukti kelulusan, bukan…ini bukanlah milik kami, ini adalah milik mu Ibu.

Ibu tataplah kembali, hiburlah dirimu, lihatlah dalam sebuah bingkai dirimu tersenyum diatas sebuah unta ditemani oleh Ayahku Juara bagiku didunia ini. Ingatlah kembali setiap lembar perjalanan mu ke tanah nan indah lagi suci.

Biarlah orang-orang menatap wujud perjuanganmu.

Ibu Tersenyumlah, engkau lah PahlawanKu.

Senin, 11 Februari 2013

Lagi Lagi Cinta... Hummm ^

Lagi-Lagi Cinta











Oleh Kiptiah


Seorang kawan meminta saya untuk membuat tulisan dengan tema “menjaga hati”. Meskipun menjaga hati cakupannya banyak, tapi bisa saya simpulkan adalah permasalahan hati mengenai cinta.


Lagi, berbicara mengenai cinta dan hati adalah dua hal yang saling bertautan. Tidak bisa dipisah. Karena jika bermain dengan hati, maka akan timbul sebuah efek yaitu cinta. Terlepas dari jenis cinta yang baik atau tidak. Maka hati memang harus selalu dijaga.


Jika tubuh memerlukan berbagai jenis asupan gizi guna mempertahankan kestabilan pencernaan, maka hatipun memerlukan asupan untuk menghindarkannya dari sesuatu yang kurang baik. Asupannya adalah zikrullah.


Hati memang sangat rentan bila tidak dijaga. Bahkan meskipun sudah telaten menjaganya, kadang masih suka tergelincir. Tapi bedanya, tergelincirnya hati yang sudah ternutrisi tidak akan tergelincir sangat jauh. Pemiliknya akan menyadari kekeliruannya dan merasakan ketidaknyamanan.


Berbicara mengenai cinta, pasti juga berbicara mengenai hubungan lawan jenis. Tidak bisa di tampik, jika seseorang menyukai lawan jenis. Entah dari segi fisik, inner beauty atau dari hati. Seberapapun ia tergolong seseorang yang shalih. Kecenderungan terhadap lawan jenis adala hal yang normal.


Kadangkala hati bisa melesat menjauh tanpa bisa dikendalikan oleh pemiliknya. Ia bisa menyukai lawan jenisnya, meskipun kadang ia tidak ingin menyukainya. Padahal sebenarnya, bukan hati yang benar-benar melesat. Tapi ada sesuatu yang menyebabkan hati itu melesat seolah tidak mampu tergenggam.


Contohnya, jika perempuan dan laki-laki memiliki intensitas pertemuan yang tinggi. Entah karena masalah pekerjaan, organisasi, pertemanan atau lainnya. Bisa dipastikan sedikit banyak akan menimbulkan suatu perasaan khusus. Jika bukan dari pihak perempuan, maka bisa jadi dari pihak laki-laki. Seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena seringnya bertemu.


Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, kita juga tidak bisa menyalahkan hati jika tiba-tiba tertambat pada seseorang. Karena itu adalah fitrah. Karena kita adalah manusia biasa yang memang dilahirkan cenderung untuk mencintai dan dicintai.


Jika suatu keadaan bisa sangat diminimalisir, misalnya jika kita bisa berusaha untuk mengurangi intensitas dengan lawan jenis, itu bisa menjadi salah satu solusi. Minimal menghindari adanya persentuhan hati.


Persentuhan hati yang telah terlanjur melekat akan sangat sulit untuk terlepas. Jika pun terlepas, seperti sebuah keramik yang retak dan berusaha untuk disatukan kembali, maka tetap akan tampak bekas retakannya.


Tapi jika terlibat pada situasi yang mengharuskan kita rutin bertemu dengan lawan jenis dan kemudian muncul benih-benih cinta yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkan hal tersebut hadir. Jangan panik, itu lumrah. Jangan berusaha menghilangkan, kata kawan saya. Semakin kita berusaha menghilangkan maka akan semakin sulit. Cinta itu berasal dari Allah, cinta itu karunia dari Allah. Maka kembalikan saja cinta itu kepada Allah, jika kita merasa kita tidak pantas memiliki rasa cinta itu (baca:bukan pada pasangan). Bukan suatu hal yang mudah, tapi kawan saja mengajarkan untuk menikmati saja rasa itu. Biarkan waktu yang akan menghapusnya. Dan selalu berpegang kepada Allah mengenai segala rasa cinta. Agar cinta kita tidak tergelincir.


Berusaha menghindari memanjakan rasa cinta yang tiba-tiba hadir kecuali kepada yang berhak. Bagaimana pun manajemen cinta bergantung kepada masing-masing orang. Tapi tingginya ilmu tidak menjamin cinta itu tidak bisa hadir dalam hatinya, karena cinta itu fitrah.


InsyaAllah, hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, sabar atas segala kehendakNya dan mencoba memikirkan baik buruknya cinta “terlarang”, Allah akan selalu menjaga kita. Menjaga cinta kita untuk yang berhak. Hanya Allah, sutradara terbaik dimuka bumi. Segala skenarionya adalah yang terindah meskipun harus mengais makna dalam kesedihan. Setiap manusia ditakdirkan memiliki cinta. Hanya Allah sebaik-baik pemberi cinta. Hanya Allah sebaik-baik landasan untuk mencintai.


Allahua’lam.


www.rainkelana.blogspot.com

Qur'an Online


Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2011/01/pasang-al-quran-online-pada-blog.html#ixzz1p0fJE7xJ

Minggu, 10 Februari 2013

Syukur Kepadam-Mu Adalah Segalanya.. ^^

Oleh bidadari_Azzam





Sahabatku berbagi resah dan sejumput kekesalan
Tentang hari pernikahan yang harus dibatalkan
Tentang penundaan mimpi dan harapan
Jua tentang perihnya nurani dan ragam kepedihan
Kuceritakan sebuah kisah dari seorang saudariku,
Duhai teman, dengarlah berita ini
Suatu kali ada tetanggaku yang sudah tua,
Ia seorang wanita, kala terbangun di pagi hari,
Ia menatap cermin dan hanya melihat tiga helai rambut di kepalanya!
Yah, katanya, “Kurasa aku dapat mengepang rambut hari ini"
Ia sisir dan kepang rambutnya
Alangkah indah hari itu
Kemudian keesokan harinya ia terbangun pada pagi hari
Lalu menatap cermin dan hanya menemukan dua helai rambut di kepalanya!
Ia tersenyum dan berkata, “Saya rasa akan lebih mudah menyisirnya”
Hari itu lebih indah dari hari kemarin baginya
Keesokan harinya ia terbangun dari lelapnya tidur
Pagi itu ia melihat cermin
Dan hanya menemukan sehelai rambut di kepalanya!
“Wow, akan kusisir seperti ekor kuda”, ia gembira dan tetap tersenyum
Hari itu amat jauh lebih menyenangkan dari hari kemarin baginya
Ia seorang wanita, baru saja sembuh dari sakit
Baru saja kehilangan anak dan suami akibat suatu bencana
Dan baru saja berbagi arti sebuah kesyukuran
Keesokan harinya ia terbangun di pagi indah,
Ia melihat ke cermin dan tersenyum
Padahal tidak ada sehelai rambut di kepalanya!
“Ya!”, ia berseru,
"Saya tidak perlu menyisir rambut hari ini!”
Alhamdulillah, hari itu terasa paling istimewa baginya
Ia memiliki waktu lebih banyak untuk bersujud kepada Sang Pencipta
Waktu nan lebih bermakna dibandingkan dengan pikiran tentang menyisir rambutnya
Sahabatku, tataplah cermin pula
Kita lebih beruntung dari pada sosok wanita yang kuceritakan itu
Negerimu aman dan jauh dari laga pertempuran
Jika hatimu gundah atau bergejolak emosi diri
Merenunglah tentang seorang wanita tanpa sehelai mahkota di kepala
Ingatkan jiwa kita bahwa problema di hadapan hanyalah setitik ujian
Obatnya tak lain adalah syukur kepada-Nya
Pagi ini kita bangun dengan ceria dan bersiap diuji kembali
Sahabatku, ketika kita bicara cinta dan simpati
Kita sering bertumpu pada penilaian manusia
Padahal dalam kalbu ini kita berikrar
Bahwa syukur kepada Ilahi adalah solusi
Memuji-Nya tak sekedar beroleh simpati sejati
Melainkan berbuah ketenangan hati
Menularkan inspirasi
Serta cahaya terang motivasi
Kembalilah tersenyum saat ini juga
Jangan biarkan dirimu makin terpuruk dalam duka
Kita optimalkan usaha dan tegar dalam merajut cita
Bangun kembali asa, duhai teman!
Untailah do’a dalam sujud panjang beriring istighfar
Ungkapkan pujian pada Robb kita, “Syukur Kepada-Mu Adalah Segalanya”
Buat sahabat-sahabatku di ‘medan juang’ yang berbeda-beda, Allah SWT Maha Tahu segala hal yang terbaik buat kita, wallohu’alam.

(bidadari_Azzam, Salam Ukhuwah dari @Krakow, jelang sore, 19 maret 2012)

Sabtu, 09 Februari 2013

Kedudukan Belajar Sesuai Alquran Al-'Alaq

Logo Ro-Juna





[ Tema ]

[ Tiap sudut, merupakan Ragam Karakter Manusia ]
[ Buku, merupakan Ilmu Allah ]
[ Garis Melingkar, Sebagai Pelindung/Terikat dalam Jalinan Ukhuwah ]

[ Makna hakiki ]
Ro-juna dengan Beragam Karakter kadernya dalam menuntut Ilmu Bersama-sama
dalam Ikatan Ukhuwah Islamiyah untuk visi dan misi satu yakni Ridho Alloh Azza Wa Jalla


^^{ Design By Pa Win }^^

Post By Ro-Juna